Di Balik Kabut Tersimpan Cerita
Judul:
Di Balik Kabut, Tersimpan Cerita
Penulis :
Herlina
Sinopsis:
Menjelang Magrib, Anton melewati jalan setapak di Bukik Runciang dengan memikul kayu bakar. Kabut perlahan turun, suara hutan mendadak menghilang, dan suasana yang biasanya akrab berubah menjadi sunyi yang ganjil.
Di tengah kabut, Anton melihat seorang lelaki tua berjalan di depannya. Berkopiah lebar, bersarung, dan memikul kayu bakar yang sangat besar, lelaki itu tampak seperti orang biasa. Anton pun mengikutinya untuk menemukan jalan pulang.
Namun, ada sesuatu yang membuat bulu kuduk Anton merinding. Tidak terdengar sedikit pun suara langkah lelaki itu.
Ketika Anton memberanikan diri melihat ke bawah, jantungnya seakan berhenti berdetak. Kaki lelaki tua itu tidak menyentuh tanah. Sosok misterius tersebut ternyata adalah Cindaku, penghuni tak kasatmata Bukik Runciang yang selama ini hanya dikenal melalui cerita para tetua nagari.
Saat ketakutan mencapai puncaknya, azan Magrib terdengar dari surau. Aneh bin ajaib, sosok Cindaku itu berhenti, menoleh kepada Anton dengan tatapan yang justru damai, lalu perlahan menghilang bersama kabut.
Apa sebenarnya yang terjadi di Bukik Runciang? Apakah Cindaku benar-benar makhluk yang harus ditakuti?
Melalui penjelasan sang kakek, Anton akhirnya memahami sebuah pesan yang jauh lebih dalam. Hutan bukan sekadar tempat mengambil hasil alam, melainkan rumah bagi berbagai kehidupan yang harus dihormati. Manusia hanyalah bagian kecil dari alam dan memiliki kewajiban untuk menjaganya dengan adab, kesederhanaan, dan rasa hormat.
“Jejak yang Tak Menyentuh Bumi” bukan hanya kisah tentang pertemuan dengan makhluk gaib, tetapi juga sebuah dongeng tentang keberanian, penghormatan terhadap alam, dan kearifan leluhur yang mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendirian di dunia ini.
Sebuah kisah misterius dari Bukik Runciang yang mengajak kita bertanya: mungkinkah sesuatu yang tak terlihat justru sedang mengajarkan manusia cara menghormati alam?