Transformasi Ekowisata Danau Tempe: Menjaga Alam Merawat Budaya dan Membangun Masa Depan

Status :
Stok Tersedia
Kategori :
Pendidikan
Rp. 81.000 Rp. 90.000
Qty :

Judul:

Transformasi Ekowisata Danau Tempe: Menjaga Alam, Merawat Budaya, dan Membangun Masa Depan

Penulis:
Andi Badli Rompegading

Sinopsis:

Danau Tempe adalah tappareng kehidupan, tempat air mengajar manusia tentang keseimbangan. Di sanalah orang Bugis belajar bahwa hidup tidak dimiliki, melainkan dijaga; tidak ditaklukkan, melainkan dipahami. Merawat danau menuntut warani’ keberanian untuk membela yang rapuh; lempu’ kejujuran dalam mengelola yang memberi hidup; getting keteguhan untuk tidak menyerah pada jalan pintas; dan assituruseng kesepakatan bersama agar manusia, adat, dan alam berjalan seirama.
Selama berabad-abad, danau merawat manusia dengan caranya sendiri, sementara manusia merawat danau melalui adat, kesabaran, dan rasa malu untuk merusak yang menghidupi.
Ketika danau berubah, sesungguhnya yang diuji bukan hanya ekologi, tetapi siri’ dan kebijaksanaan kita sebagai manusia air.
Sebab bagi orang Bugis, air yang ditinggalkan bukan sekadar surut ia adalah tanda bahwa assituruseng telah retak, dan jalan pulang perlahan menghilang.
Transformasi Ekowisata Danau Tempe: Menjaga Alam, Merawat Budaya, dan Membangun Masa Depan mengajak pembaca menyelami Danau Tempe bukan sekadar sebagai bentang alam perairan, melainkan sebagai ruang hidup, ruang budaya, dan ruang kebijakan yang sarat makna. Buku ini berangkat dari kisah keseharian masyarakat rumah apung nelayan, perempuan pengrajin, anak muda, dan tetua adat yang hidup di antara air dan daratan, di tengah perubahan ekologis yang kian nyata.
Melalui pendekatan etnografis, buku ini merekam suara-suara warga yang jarang hadir dalam dokumen perencanaan: tentang air yang makin dangkal, ikan yang menjauh, rumah yang terus berpindah, serta tradisi yang terancam tertunda. Krisis ekologis Danau Tempe dipotret bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi sebagai krisis relasi antara manusia dan alam, antarwarga, serta antara komunitas lokal dan negara.
Di tengah tekanan sedimentasi, pencemaran, perubahan iklim, dan invasi tanaman air, buku ini menunjukkan bahwa masyarakat Danau Tempe tidak sekadar menjadi korban. Mereka mengembangkan resiliensi melalui strategi adaptasi: memodifikasi rumah apung, mengolah enceng gondok menjadi sumber ekonomi, menyesuaikan waktu sekolah dan ibadah, serta mentransmisikan nilai-nilai ekologis melalui praktik hidup sehari-hari. Di sinilah budaya Bugis dengan nilai lempu’, getteng, warani’, dan assituruseng tampil bukan sebagai warisan masa lalu, melainkan sebagai modal transformasi masa depan.
Buku ini kemudian melangkah lebih jauh dengan merumuskan model transformasi Danau Tempe berbasis sosial-budaya, yang menjembatani konservasi ekologis dan pembangunan ekonomi. Transformasi dipahami sebagai proses jangka Panjang bukan proyek sesaat yang berpijak pada pengakuan masyarakat danau, penguatan kapasitas komunitas, integrasi kebijakan lintas sektor, serta pendidikan ekologis antar generasi. Ekowisata ditempatkan sebagai peluang, sekaligus diuji secara kritis agar tidak terjebak dalam komersialisasi dan ketimpangan baru.
Sebagai penutup, buku ini menenun harapan dari air: menawarkan rencana aksi, skenario masa depan, indikator keberhasilan, hingga refleksi kebijakan yang ditujukan bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan. Dengan gaya bertutur yang hidup namun berpijak pada kerangka akademik, buku ini mengajak pembaca untuk melihat Danau Tempe sebagai cermin bahwa masa depan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari keadilan sosial dan kebijaksanaan budaya.
Buku ini adalah undangan untuk merawat danau, bukan hanya dengan alat dan anggaran, tetapi dengan keberanian moral, kejujuran kebijakan, keteguhan komitmen, dan kesepakatan Bersama agar harapan Danau Tempe tidak tenggelam bersama air yang surut.