Wejangan Hidup Buya Hamka
Judul : Wejangan Hidup Buya Hamka
Penulis: Sopian Ansori
Sinopsis:
Buku yang penulis beri judul dengan “Wejangan Hidup Buya Hamka” karena kalimat-kalimat hikmah yang dimasukkan dalam tulisan ini terambil dari beberapa buku karangan Buya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), kemudian dijelaskan dengan keterbatasan wawasan yang penulis miliki. Dalam buku ini terbagi menjadi tiga bagian; bagian pertama ada Lembaga Budi yang terdiri dari 11 wejangan, bagian kedua; Tasawuf Modern terdiri dari 11 wejangan dan bagian ketiga; Falsasah Hidup terdiri dari 12 wejangan.
Seperti diketahui bahwa, Buya HAMKA gelar Datuk Indomo didapat dari sukunya yang ada di Minangkabau dan populer dengan nama Hamka. Beliau lahir di Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam, Sumatra Barat, 17 Februari 1908 dan beliau dipanggil ke hadirat yang maha kuasa di Jakarta pada tanggal 24 Juli 1981 dalam usai 73 tahun. Buya Hamka adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia. Ia berkarier sebagai wartawan, penulis, dan pengajar serta termasuk dari salah satu mufassir indonesia dengan bukunya; Tafsir Al-Azhar dan buya HAMKA juga terjun ke dunia politik melalui Masyumi sampai partai tersebut dibubarkan. Ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) dibentuk untuk pertama kalinya di Indonesia, beliaulah diangkat sehingga menjadi ketua MUI pertama dan aktif dalam salah satu organisasi terbesar di Indonesia yakni Muhammadiyah hingga akhir hayatnya.
Hamka juga mendapatkan gelar Dr. HC. (Doktor Honoris Causa atau gelar doktor kehormatan) dari Universitas al-Azhar Kairo Mesir dan Universitas Nasional Malaysia, serta Universitas Moestopo Jakarta mengukuhkannya sebagai guru besar (Profesor). Selain itu, orgnaisasi Muhammadiyah menyematkan namanya dengan nama Universitas HAMKA dan pada tanggal 7 november 2011, Hamka ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.